Belajar
adalah merupakan kegiatan yang kompleks yang melibatkan guru, siswa, bahan ajar
dan lingkungan. Dalam proses belajar mengajar, guru seringkali dihadapkan pada
berbagai permasalahan terutama bagaimana membelajarkan siswa atau menumbuhkan
semangat belajar pada diri siswa. Permasalahan ini muncul karena banyak faktor,
salah satu diantaranya adalah kurang pengetahuan guru tentang teori-teori
belajar sebagai salah satu acuan dalam membelajarkan siswa, padahal salah satu
peran utama dalam mengajar adalah mencetak para pebelajar yang handal (powerful leaners) (Joice, 2011:7).
Dengan mengetahui berbagai teori belajar guru dapat memilih strategi pembelajaran
yang sesuai dengan karakteristik materi ajar dan siswa yang terlibat dalam
proses pembelajaran. Dengan demikian guru bisa memberikan perlakuan yang tepat
bagi siswanya, misalnya dalam memilih cara penyampaian materi bagi siswa,
penyediaan alat-alat peraga dan sebagainya, sesuai dengan materi ajar tahap
perkembangan kemampuan berpikir yang dimiliki oleh siswa masing-masing.
Banyak
teori belajar yang telah dikembangkan oleh para ahli. Pengembangan teori-teori
belajar tersebut telah dimulai sejak sebelum abad ke-20 sampai sekarang. Teori
belajar sebelum abad ke-20 dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu teori
disiplin mental, teori pengembangan alamiah, dan teori apersepsi. Teori belajar
sebelum abad ke-20 dikembangkan berdasarkan pemikiran filosofis atau spekulatif
tanpa dilandasi eksperimen sehingga tidak dibahas dalam tulisan ini.
Teori-teori
belajar abad ke-20 dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok behavioristik dan
kelompok teori kognitif. Teori belajar behavioristik menjelaskan bahwa
belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang dapat diamati, yang terjadi
melalui terkaitnya stimulus-stimulus dan respons-respons menurut prinsip
mekanistik. Stimulus yaitu penyebab belajar, adalah agen-agen lingkungan, yang
bertindak terhadap suatu organisma, yang menyebabkan organisma itu memberikan
respons atau meningkatkan probabilita terjadinya respons tertentu.
Respons-respons, yaitu akibat-akibat atau efek-efek, merupakan reaksi-reaksi
fisik suatu organisma terhadap baik stimulus eksternal maupun stimulus internal
(Dahar, 1988:24). Teori belajar kognitif banyak menekankan pada faktor-faktor
yang terdapat dalam diri si belajar dan kurang memberikan tekanan pada faktor
lingkungan sebagaimana dalam teori perilaku. Teori belajar kognitif memusatkan
perhatian pada struktur-struktur dan proses-proses kognitif yang bertindak
sebagai jembatan antara stimuli pembelajaran dan respon-respon belajar (Setyosari,
2001:37).
A.
Teori-Teori Belajar Behavioristik
Dalam
kamus bahasa inggris behavior artinya kelakuan atau tindak-tanduk. Teori
Behavioristik merupakan teori belajar yang berpandangan bahwa belajar
adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara
stimulus dan respon. Atau dengan kata lain belajar adalah
perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku
dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Behaviorisme
berusaha mencoba menerangkan dalam pembelajaran bagaimana lingkungan
berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku (Sukardjo, 2012:37). Lebih lanjut
dijelaskan bahwa aliran belajar prilaku ini memusatkan perhatian pada prilaku
organisma yang dapat diamati dan tidak berurusan dengan hal-hal seperti proses
berfikir, keadaan mental dan masalah-masalah lain yang tidak diamati (Setyosari,2001:37). Beberapa
tokoh teori belajar behaviorisme antara lain adalah Pavlov, Thorndike, Skinner.
1.
Teori Classical Conditioning (Ivan Petrovich
Vavlop).
Penemuan Pavlov yang
sangat menetukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang
refleks berkondisi (conditioned reflex).
Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar behaviorisme, sekaligus
meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan
pengembangan teori-teori tentang belajar.
Pavlov menggunakan
seekor anjing sebagai binatang percobaan. Pavlov melakukan
suatu eksperimen terhadap anjing. Anjing mengeluarkan air liur
apabila diperlihatkan makanan. Makanan yang keluar disebut sebagai rangsangan
tak berkondisi (unconditional stimulus)
dan air liur yang keluar setelah anjing melihat makanan disebut reflek tak
berkondisi (unconditioned reflex),
karena setiap anjing akan melakukan refleks yang sama (mengeluarkan air liur)
kalau melihat rangsangan yang sama pula (makanan). Kemudian dalam percobaan
selanjutnya Pavlov membunyikan sebuah bel setiap kali ia hendak mengeluarkan
makan. Dengan demikian anjing akan mendengar bel dahulu sebelum ia melihat
makanan muncul di depannya. Percobaan ini dilakukan berkali-kali dan selama itu
keluarnya air liur selalu diamati.
Mula-mula air liur
hanya keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak terkondisi), tetapi
lama kelamaan air liur sudah keluar pada waktu anjing baru mendengar bel.
Keluarnya air liur setelah anjing mendengar bel disebut sebagai reflek
berkondisi (conditioned reflex),
karena refleks itu merupakan hasil latihan yang terus menerus.. Bunyi bel
merupakan rangsang berkondisi (conditioned
stimulus). Kalau latihan itu diteruskan, maka pada waktu keluarnya aiu liur
setelah anjing mendengar bunyi bel akan tetap terjadi walaupun tidak ada lagi
makanan yang mengikuti bunyi bel itu. Dengan kata lain, refleks berkondisi akan
bertahan walaupun rangsang tak berkondisi tidak ada lagi.
Pada tingkat yang lebih
lanjut, bunyi bel didahului oleh sebuah lampu yang menyala, maka lama kelamaan
aiu liur sudah keluar setelah anjing melihat nyala lampu walaupun ia tidak
mendengar bel atau melihat makanan sesudahnya. Demikian satu rangsang
berkondisi dapat dihubungkan dengan rangsang berkondisi lainnya sehingga
binatang percobaan tetap dapat mempertahankan refleks berkondisi walaupun
rangsang tak berkondisi tidak lagi diberikan.
Tentu saja tidak adanya
rangsang tak berkondisi hanya bisa dilakukan sampai pada taraf tertentu, karena
kalau terlalu lama tidak ada rangsang tak berkondisi, binatang percobaan itu
tidak akan mendapat imbalan (reward)
atas refleks yang sudah dilakukannya dan karena itu refleks itu makin lama akan
makin menghilang dan terjadilah ekstinksi atau proses penghapusan refleks (extiction). Dari percobaannya Vovlov
mengemukakan hukum-hukum belajar yaitu :
1. Law of
Respondent Conditioning, yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua
macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai
reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
2. Law of
Respondent Extinction, yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks
yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali
tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
2.
Teori Hukum Pengaruh ( Edward Lee Thorndike )
Landasan
teori Thorndike mula-mula
dilakukan dalam eksperimen-eksperimen yang dilakukan dengan binatang. Dia melakukan
penelitian terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, dan
burung yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh
Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning)
tidak lain sebenarnya adalah asosiasi suatu stimulus yang menimbulkan suatu
respon tertentu.
Seekor kucing yang lapar ditempatkan dalam sangkar berbentuk kotak
berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti pengungkit, gerendel pintu,
dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut. Peralatan ini
ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut memperoleh makanan
yang tersedia di depan sangkar tadi. Keadaan bagian dalam sangkar merupakan
situasi stimulus yang merangsang kucing
untuk bereaksi melepaskan diri dan memperoleh makanan yang ada di muka pintu.
Mula-mula kucing tersebut mengeong, mencakar dan berlari-larian, namun gagal
membuka pintu untuk memperoleh makanan yang ada di depannya. Secara kebetulan
kucing itu berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu sangkar tersebut.
Setelah percobaan dilakukan berulang-ulang maka akan terlihat beberapa
perubahan yaitu :
1. Waktu
yang diperlukan untuk menyentuh engsel bertambah singkat.
2.
Kesalahan-kesalahan (reaksi yang tidak relevan) semakin berkurang dan malah
akhirnya kucing samasekali tidak berbuat kesalahan lagi, begitu dimasukkan ke
dalam kotak, kucing langsung menyentuh engsel.
Berdasarkan eksperimen di atas, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar
adalah hubungan antara stimulus dan respon. Itulah sebabnya teori koneksionisme
juga disebut S-R Bond Theory dan S-R Psycology of learning selain itu,
teori ini juga terkenal dengan Trial and
Error Learning. Istilah ini menunjuk pada panjangnya waktu atau banyaknya
jumlah kekeliruan dalam mencapai suatu tujuan. Apabila diperhatikan secara
seksama dalam eksperimen Thorndike tadi didapatkan 2 hal pokok yang mendorong
timbulnya fenomena belajar.
Pertama, keadaan kucing
yang lapar. Seandainya kucing itu kenyang, sudah tentu tidak akan berusaha
keras untuk keluar. Bahkan, barangkali ia akan tidur saja dalam sangkar yang mengurungnya. Dengan kata
lain, kucing itu tidak akan menampakkan gejala belajar untuk keluar. Sehubung
dengan hal ini, hampir dapat dipastikan bahwa motivasi (seperti rasa lapar)
merupakan hal yang sangat vital dalam belajar.
Kedua, tersedianya
makanan di muka pintu sangkar,
merupakan efek positif atau memuaskan yang dicapai oleh respon dan kemudian
menjadi dasar timbulnya hukum belajar yang disebut law of effect.
Artinya, jika sebuah respon menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan antara
stimulus dan respon akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan
(mengganggu) efek yang dicapai respon, semakin lemah pula hubungan stimulus dan
respon tersebut.
3.
Teori Oprant Conditioning (Burrhus
Frederic Skinner)
Burrhus Frederic
Skinner merupakan orang yang tidak sependapat dengan pandangan S-R dan
penjelasan refleks bersyarat. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya
perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme
berinteraksi dengan lingkungannya. Banyak tingkah laku menghasilkan perubahan
atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan
dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti. Oleh karena
itu, kunci untuk memahami sebagian besar tingkah laku atau perbuatan yang
dilakukan terletak pada pemahaman antarhubungan antara situasi stimulus, respons
organisme, dan konsekwensi lingkungan itu.
Menurut Skinner,
hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam
lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Perubahan
tingkah laku yang diharapkan bisa terjadi jika diikuti oleh konsekuensi yang
menyenangkan dan terus diulang. Jika tidak ada pengulangan dan respons yang
menyenangkan maka perubahan tersebut akan tidak akan berlangsung lama.
4.
Teori Belajar Sosial (Albert
Bandura)
Teori belajar sosial dikembangkan oleh Albert
Bandura, yang dapat dipandang sebagai perluasan dari teori belajar perilaku. Teori
ini banyak menggunakan prinsip-prinsip teori belajar perilaku dengan penekanan
pada efek atau isyarat perilaku dan proses mental siswa. Penerapan teori
belajar sosial menggunakan reinforcement yang bersifat eksternal dan
aktivitas kognitif yang bersifat internal untuk memperoleh pengetahuan, sikap,
dan keterampilan dari sumber atau tempat siswa belajar. Melalui pengamatan dan
interpretasi kognitif terhadap lingkungan sekitar banyak informasi dan
penampilan bermakna yang dapat dipelajari.
Bandura berpendapat bahwa sebagaian hasil belajar
tidak dibentuk dari konsekuensi perilaku, tetapi dari suatu pemodelan (modelling).
Terdapat empat fase belajar berdasarkan pemodelan yaitu fase atensi (perhatian),
fase retensi, fase reproduksi, dan fase motivasi. Urutan fase-fese tersebut
diperlihatkan pada bagan di bawah ini.
1.
Fase Atensi
Fase pertama dalam belajar pemodelan adalah
memberikan perhatian pada satu model. Pada tahap ini seseorang memberikan
perhatian pada model yang menarik, popular atau yang dikagumi. Jadi yang
penting dalam dalam tahap ini adalah model harus memiliki daya tarik.
2.
Fase Retensi
Pada fase ini terjadi pengkodean tingkah laku model
dan penyimpanan kode-kode itu di dalam ingatan (memori jangka panjang).
3.
Fase Reproduksi
Dalam fase ini kode-kode dalam memori membimbing
penampilan yang sebenarnya dari tingkah laku yang baru diamati. Pada fase ini
model melihat apakah komponen-komponen urutan tingkah laku sudah dikuasai oleh
si pengamat (pebelajar). Pada fase ini juga si model hendaknya memberikan umpan
balik terhadap aspek-aspek yang sudah benar ataupun pada hal-hal yang masih
salah dalam penampilan.
4.
Fase Motivasi.
Pada fase ini si pebelajar akan termotivasi untuk
meniru model, sebab mereka merasa bahwa dengan berbuat seperti model, mereka
akan memperoleh penguatan. Pada fase ini model sebaiknya memberikan motivasi
berupa pujian atau pemberian nilai.
B. Teori-Teori Belajar Kognitif.
Para penganut teori-teori belajar kognitif
berpendapat bahwa perilaku yang tidak dapat diamati pun dapat dipelajari secara
ilmiah. Adapun teori-teori belajar kognitif adalah sebagai berikut:
1. Teori
Pemrosesan Informasi
Para ahli teori pemrosesan informasi melakukan
kajian tentang pembelajaran berdasarkan konsep memori manusia dengan alur atau
sistem pemrosesan informasi yang mirip dengan pemrosesan informasi yang terjadi
pada komputer. Langkah-langkah dalam sistem ini dimulai pada saat salah satu
atau lebih indera (penglihat, pendengar, pembau, peraba, dan pengecap) menerima
rangsangan dari luar (input). Rangsangan ini disimpan hanya sesaat di dalam sensori register, yaitu tempat
rangsangan tersebut dikenali atau dipahami.
Rangsangan-rangsangan yang mendapat atensi atau
perhatian dan dikenali itu kemudian dipindahkan ke memori jangka pendek (short
term memory), yaitu suatu tempat penyimpanan yang memiliki kapasitas yang
sangat terbatas. Memori jangka pendek juga berfungsi sebagai memori kerja (working
memory) untuk menyimpan apa yang sedang dipikirkan pada suatu saat
tertentu, yaitu informasi yang diaktifkan atau sedang diproses. Informasi yang
diaktifkan itu berasal dari memori jangka panjang (long term memory),
yaitu suatu tempat di dalam sistem pikiran yang dapat menyimpan informasi dalam
waktu lama. Sistem pemrosesan informasi digambarkan seperti berikut ini.
2.
Teori Konstruktivis
Jean Piaget dikenal sebagai penggagas teori
konstruktivis dalam pembelajaran. Piaget berpendapat bahwa belajar dipengaruhi
oleh perkembangan intelektual siswa dengan tiga aspeknya, yaitu: struktur, isi,
dan fungsi . Perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi, yaitu:
organisasi dan adaptasi. Adaptasi dilakukan melalui proses asimilasi dan
akomodasi. Dalam proses asimilasi siswa menggunakan struktur yang sudah ada
pada sistem kognitifnya untuk dapat merespons rangsangan dari lingkungannya,
sedangkan dalam proses akomodasi siswa memerlukan modifikasi struktur yang
sudah ada pada sistem kognitifnya untuk dapat merespons rangsangan dari
lingkungannya.
Sejak lahir hingga dewasa, semua manusia melalui
empat tahap perkembangan intelektual, yaitu: sensori-motor, pra-operasional,
operasional konkret, dan operasional formal dengan urutan yang sama, tetapi
dengan kecepatan berbeda untuk masing-masing orang. Perkembangan intelektual
dipengaruhi oleh lima faktor yaitu kedewasaan, pengalaman fisik, pengalaman
logika matematik, transmisi sosial, dan proses equilibrasi. Berkaitan dengan
pengetahuan, Piaget berpendapat bahwa terdapat tiga jenis pengetahuan, yaitu:
pengetahuan sosial, pengetahuan fisik, dan pengetahuan logika matematik.
Pengetahuan sosial dapat dipindahkan dari pikiran guru ke pikiran siswa,
sedangkan pengetahuan fisik dan pengetahuan logika matematik harus dibangun
sendiri oleh siswa dengan salah satu cara yaitu equilibrasi.
Piaget dan para konstruktivis lainnya pada umumnya
berpendapat bahwa dalam proses pembelajaran seharusnya guru memperhatikan
pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa. Dengan demikian, pembelajaran bukan
sebagai proses pemindahan gagasan guru kepada siswa, tetapi sebagai proses
dalam mengubah gagasan siswa yang mungkin salah.
3.
Teori Belajar Bermakna
Jerome S. Bruner dan David P. Ausubel menyatakan
bahwa siapapun yang terlibat dalam proses pembelajaran, maka sesungguhnya ia
bermaksud untuk mencapai kebermaknaan belajar (kebermaknaan intelektual,
kebermaknaan sosial, dan kebermaknaan spiritual). Dalam upaya untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran Bruner menekankan pentingnya struktur
pengetahuan yang berimplikasi pada pengembangan kurikulum, kesiapan siswa untuk
belajar, motivasi siswa untuk belajar, dan nilai intuisi dalam proses
pembelajaran yang berimplikasi pada teknik-teknik intelektual untuk sampai
kepada suatu temuan tanpa melalui langkah-langkah analitis.
Bruner beranggapan bahwa belajar mencakup tiga
proses, yaitu: perolehan informasi baru, transformasi pengetahuan, serta
menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Pandangan Bruner tentang belajar
disebutnya sebagai konseptualisme intstrumental yang didasarkan pada prinsip
yaitu pengetahuan seseorang mengenai alam yang menunjukkan model-model
kenyataan yang telah ia bangun. Model-model tersebut mula-mula diadopsi dari
budaya seseorang kemudian diadaptasi dalam rangka penggunaannya terhadap orang
lain.
Berkenaan dengan belajar bermakna, Bruner menegaskan
bahwa belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan karena
pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan akan bertahan lama dan memiliki
nilai transfer yang baik. Selain itu, belajar penemuan dapat meningkatkan
kemampuan berpikir secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif
untuk menemukan dan memecahkan masalah.
Pembahasan mengenai belajar bermakna oleh Ausubel
dimulai dari pendapatnya yang menyatakan bahwa belajar dapat diklasifikasikan
ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berkenaan dengan cara informasi atau
materi pembelajaran disajikan kepada siswa (melalui penerimaan atau penemuan).
Dimensi kedua berkenaan dengan bagaimana cara siswa dapat mengaitkan informasi
baru pada struktur kognitif yang telah ada (fakta, konsep, prosedur, dan
generalisasi). Inti dari teori Ausubel tentang belajar bermakna adalah
ungkapannya yang menyatakan bahwa faktor paling penting dalam proses proses
pembelajaran adalah apa yang telah diketahui oleh siswa. Dengan demikian,
Ausubel menegaskan bahwa belajar bermakna pada diri siswa apabila ia sudah
mampu mengaitkan informasi baru pada konsepkonsep relevan yang terdapat di
dalam struktur kognitifnya. Ausubel mengecam ahli pendidikan yang menyamakan
antara belajar penerimaan dan belajar hafalan, karena mereka berpendapat bahwa
belajar bermakna hanya terjadi jika siswa menemukan sendiri pengetahuan. Bagi
Ausubel, belajar penerimaan dapat dibuat bermakna dengan cara menjelaskan
hubungan antara konsep-konsep. Belajar penemuan akan rendah kebermaknaannya dan
menghasilkan pengetahuan hafalan jika dilakukan secara coba-coba atau
tebak-tebakan. Belajar penemuan yang sangat bermakna jika dilakukan melalui
langkah-langkah penelitian ilmiah.
C. Teori-Teori Belajar
Untuk Pembelajaran IPA
Dari sekian banyak
teori yang telah dijelaskan, terdapat teori-teori yang sesuai dengan
pembelajaran IPA. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Teori Belajar Sosial.
Teori ini cocok
digunakan untuk mengajarkan langkah-langkah kerja atau proses melakukan sesuatu
seperti prosedur penggunaan mikroskop, cara membuat awetan, cara menggambarkan
pembentukan bayangan pada cermin dan sebagainya. Dalam teori ini yang menjadi
model langsung adalah guru yang kemudian pada proses selanjutnya mungkin saja
menggunakan siswa yang telah memiliki pemahaman yang lebih dibandingkan dengan
teman-teman sekelasnya.
2.
Teori Pemrosesan Informasi.
Teori ini cocok
digunakan untuk menyampaikan konsep-konsep IPA yang berkaitan dengan sejumlah
fakta atau teori yang sewaktu-waktu akan digunakan untuk menyelesaikan masalah
yang berkaitan dengan IPA. Penggunaan teori ini lebih ditekankan pada persiapan
siswa untuk menempuh proses evaluasi belajar seperti Ujian Nasional atau Ujian
Semester.
3.
Teori Konstruktivis
Dengan memahami teori
ini guru akan lebih bijak memilih metode dan pendekatan yang digunakan. Banyak
hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan belajar mengajar seperti kesiapan siswa,
tahap perkembangan siswa, materi yang sesuai dengan kondisi perkembangan siswa
dan lain sebagainya. Dengan memperhatikan factor-faktor di atas maka kegiatan
belajar mengajar akan menjadi sangat menyenangkan dan berkesan bagi siswa.
4.
Teori Belajar Bermakna
Teori belajar bermakna
menekankan adanya proses penemuan dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan
penemuan ini maka pengetahuan yang diperoleh akan bertahan lebih lama. Selain
itu dengan pembelajarn melalui kegiatan penemuan dapat meningkatkan kemampuan
berpikir secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk
menemukan dan memecahkan masalah.
Demikian posting
tentang Teori-Teori Belajar untuk Pembelajaran IPA ini, mudah-mudahan
dapat memberikan manfaat. Terima kasih.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar